ijaZah, yeah…
Sebelum kita masuk ke tulisan inti (halah), ada baiknya selaku warga dunia internet saya mulai postingan ini dengan menyinggung tentang sodara kita yang sedang bermasalah, yaitu oh Ibu Prita yang dengan malangnya harus merasakan mendekam di penjara akibat curhatannya melalui email pribadi yang dianggap mencemarkan nama baik sebuah Rumah Sakit Omni yang katanya bertarif Internasionil itu, yang oleh banyak orang, oh Ibu Prita didukung melalui berbagai cara, ada yang berdoa, ada yang memposting tulisan di blognya, ada yang pasang banner, ada yang bikin group di fesbuk, ada yang datang menjenguknya ada yang datang di sidangnya dan ada juga yang melakukan semua yang saya sebut tadi… dan jelas maraknya dukungan komunitas dunia maya ini telah cukup berhasil membuat kasus ini jadi kasus nasional yang menjadikan para capres pun ikut berbicara tentangnya, ah, semoga niat mereka memang baik, lha wong calon presiden kita kok…
Baiklah, saya tadi nulis judul ijazah ya?
Baiklah lagi, ijazah secara fisik adalah selembar kertas dengan nomor seri di atasnya, kemudian dituliskan juga di situ nama sekolahan yang mengeluarkannya, lalu ada tercantum juga identias si pemilik ijazah tersebut, juga identitas sekolah tempat dia menuntut ilmu dan juga tempat bermain-main dengan banyak teman-teman yang menyenangkan, menjengkelkan, membuatnya jatuh cinta, patah hati dan lain sebagainya itu… Oh ya, di bagian bawah ijazah juga terdapat foto orang ganteng pakai dasi lalu ada juga tanda tangan, tanggal dan cap…
Ada banyak cara orang mendapatkan ijazah. Ada yang dengan perjuangan keras melalui belajar siang malam dengan kesungguhan dengan harapan bisa memperbaiki kualitas hidup, ijazah bagi orang seperti ini adalah bukti konkrit bagi kesungguhannya dan sarana bagi dia untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Ada juga orang yang mendapatkan ijazah sebagai buah dari kecintaannya akan ilmu pengetahuan, ijazah adalah semacam bonus atau penghargaan bagi usahanya dalam memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan, oh indahnya…
Dan jelas, ada juga orang yang mencarinya sebagai alat untuk memperlancar urusannya, seperti misal mau jadi calon Ketua RT yang syaratnya misalnya harus S-1 atau biar naik pangkat dalam pekerjaannya. Untuk keperluan ini, biasanya mereka memilih jalan pintas, persetan ilmu pengetahuan dan oh sayangnya sistem pendidikan kita cukup toleran sepertinya dengan hal seperti ini…
Orang kadang menyebut ijazah dengan nama lain: “Surat Tanda Tamat Belajar”… dan bahkan dalam kamus Bahas Indonesia bersampul biru, dengan cap Best Seller karangan Hoetomo M.A, salah satu definisi dari ijazah adalah itu tadi: surat tanda tamat belajar. Wah, kalau paradigma kita dalam memahami ijazah, hanya sebatas surat tamat belajar, oh.. betapa mengerikannya. Bagaimana tidak ngeri, belajar kok tamat? Bukankah manusia dikaruniai akal adalah agar akal itu dipergunakan dan dikembangkan, lha kalo belajarnya sudah tamat bagaimana akal tersebut bisa maksimal digunakannya…
Juni 5, 2009 pada 8:52 am
Maksudnya sudah tamat itu untuk suatu jenjang tertentu….
misalnya sudah tamat untuk SD dapat ijazah SD
sudah tamat SMP dapat ijazah SMP
sudah tamat SMA dapat ijazah SMA
Lha kalo kamu sudah tamat “Bujangnya” dapatnya Ijabsah dari KUA
Wakakakakak…..
Juni 5, 2009 pada 11:36 am
wekekekek tamat mbajing wis…, maksud saya kata tersebut kalo sudah menjadi paradigma dalam otak bawah sadar kita jika ijazah itu artinya tamat belajar, itu yang denjeros…
Juni 5, 2009 pada 12:01 pm
hehehe … belajar ndak mengenal batasan usia, mas. kalau ijazah dimaknai STTB, itu formalitas doang. ada sekolah yang bisa digunakan utk belajar tanpa ijazah, yakni sekolah kehidupan.
Juni 5, 2009 pada 1:35 pm
teliti mas sampeyan, tamat yo brati matek, wis… hahaha
meskipun itu hanya formalitas tapi yo bikin bahasa ki sing nggenah ngono… wakaka…
Juni 5, 2009 pada 3:56 pm
Tamat..tamat..
Hmmm..,kalo pengen tamat hidup,ntar ijazahe tak usulne kusus buat sampean wis..wkxkxkx..
Juni 5, 2009 pada 4:39 pm
Benar !
Karena manusia gak boleh berhenti belajar
Juni 5, 2009 pada 6:52 pm
@pak sawali: setubuh pak…, sekolah kehidupan. tapi alangkah indahnya jika sekolah formal juga
@suryaden: matek brarti modyarrr…
@SanG BaYangG: walah, malah horor… aku luluse ngenteni sampeyan wae, ngko rak iso pilok-pilokan disik…
@Eka Situmorang-Sir: setubuh lagi, lagi-lagi setubuh (lemes…)
Juni 5, 2009 pada 7:34 pm
Ijasah palsu di Indonesia banyak sekali…
Yang asli tapi palsu juga ada.
Ada lagi kuliah di STID…
Sekolah tidak, Ijasah dapat…
Juni 5, 2009 pada 7:42 pm
hah jaman sekarang ijazah dapat dengan mudah dibeli.
kita ambil contoh paraq anggota dpr yang membeli ijazah hanya untuk agar bisa dapat tempat di dpr.
Juni 5, 2009 pada 9:00 pm
Setiap orang adalah Guru
Setiap tempat adalah sekolah
Setiap peristiwa adalah pelajaran
Setiap waktu adalah belajar
Tamat belajar=mati
Juni 6, 2009 pada 12:11 am
aku nunggu ijazah dari sing gawe urip wae…pisss
Juni 6, 2009 pada 4:23 am
sungguh prihatin jk ijazah bs di perjual belikan….
Juni 6, 2009 pada 9:22 am
jalan masih panjang, ukuren dewe
Juni 6, 2009 pada 12:00 pm
beli ijazahnya bank?? hihihi…
Juni 6, 2009 pada 4:20 pm
@pak Mars: paling enak dosen STID, ngajar tidak honor dapat…
@savowen: itu salah satu cuntuh
@itempoeti: setubuh lagi…
@simbah: nek wis etuk jo lali dilaminating…
@jingga: iya
@senoaji: dewe 19?
@japraxxx: huhuhu..
Juni 6, 2009 pada 10:29 pm
Ijazah ijazah, marai nglu mikirne Kowe …
Juni 7, 2009 pada 5:37 am
bahkan untuk memperoleh kelulusan plus ijazah SMA saja banyak yang melakukan kecurangan, T.T
yup. belajar sampai akhir hayat!! ^.^ !
btw, kaitannya sama ibu prita…… hm..
Juni 8, 2009 pada 9:54 am
halo mas grubik, mudah2an kabarnya baik terus, sehat terus ya..
Juni 8, 2009 pada 3:30 pm
ijasahku asli lho… hasil jerih payah bukan hasil jual beli hehe…
Juni 8, 2009 pada 3:45 pm
Setuju bosss, belajar tanpa batas
Juni 8, 2009 pada 5:03 pm
wew, kalo gitu, belajar jadi dibatasi dong ya..
hihihih…
STTB, surat tanda tamat belajar, hihihi..
dudulz
Juni 9, 2009 pada 2:50 am
wah mengerikan juga ya kalo benar2 belajar itu ada tamatnya. Tapi, terkadang secara tidak disadari saya juga sering berlaku bebal, dengan tidak mau belajar dari apa2 yg saya lihat, saya rasakan, dan saya alami. Namun, sejak ngeblog dan tentu saja blogwalking kebebalan tersebut dgn drastis sirna dr dlm diri, alhamdulillah.
Juni 9, 2009 pada 10:56 am
Dadi apike STTTB ya mas, Surat Tanda Tidak Tamat Belajar
Juni 9, 2009 pada 10:58 am
Kui ijik mendingan mas, daripada aluwung, kan luwih becik lebih baik?
Dadi apike nek bocahe sesuk wis entuk STTB, ditambahi iki mas, Surat Tanda Tanya Belajar
Juni 9, 2009 pada 10:59 am
Mas, mohon mangap, jawabane sampean helum beruntu
Juni 9, 2009 pada 11:56 am
Orang-orang yang males seperti itu, ijazah aja dibeli, tetep aja kelihatan kualitasnya
Juni 9, 2009 pada 1:04 pm
duh.. jadi inget, ijasahku aku taro dimana ya?? *nyari2*
Juni 9, 2009 pada 3:39 pm
iya juga ya..?!!!!! kalo dapet STTB berarti gak usah belajar lagi ya..?
berarti menuntut ilmu sampe ke negri cina juga udah gak perlu ya..?
aya aya wae
Juni 9, 2009 pada 5:27 pm
Iya juga sih Mas, dikampung saya yg tidak melanjutkan ke tingkat SMP masih banyak lho. Pada akhirnya mereka berangkat ke jakarta sebagai kuli kasar atau yg tinggal di kampung milih untuk mengembala.
Mungkin karena sudah menjadi paradigma dalam otak bawah sadar mereka jika ijazah itu artinya tamat belajar, mereka benar² tidak belajar lagi. Padahal sayang ya minimal mereka sudah bisa baca tulis.
Kalau masalah belajar dari kehidupan itu sudah pasti, setiap orang mengalaminya. Namun akan lebih baik lagi jika ditambah dgn belajar melalui bacaan buku, hitung-hitungan, dan lainnya layaknya sekolah formal.
Juni 9, 2009 pada 5:54 pm
BElajar emang gak ada tamat, hanya akhir hayat yang dapat mencegat…belajar teruzzzz…!!! gak peduli dengan ijazah…..,
Tapi ngelamar kerjaan perlu ijazah jew…?? iya juga ya..? yo wis, belajar teruzzz sambil nyari ijazah…he…e….
Juni 9, 2009 pada 10:46 pm
aku wis komeng urung yooo?
sampek lali…
Juni 10, 2009 pada 9:28 pm
Harusnya diganti SMTB aja kali ya? Surat Mendekati Tamat Belajar
hehe….
Juni 11, 2009 pada 9:32 am
hahaha.. paslu.. ijasah paslu… manusia paslu.. pria paslu.. wanita paslu.. hahaha.. OOT
Salam Sayang
Juni 11, 2009 pada 2:28 pm
dirimu seh ngartekno ne pake basa kiasan padahal maksude tamat wi kan
Maksudnya sudah tamat itu untuk suatu jenjang tertentu….
misalnya sudah tamat untuk SD dapat ijazah SD
sudah tamat SMP dapat ijazah SMP
sudah tamat SMA dapat ijazah SMA
(kopas komen e kang tuyi) wkwkwkkwkwkw
alasan sekolah opo ora, mereka ndak peduli sama namanya, mau tamat kek mau tomat kek, lanjut ga lanjut pancen pengaruh nduwe duit opo ora, duwe semangat opo ora, nduwe niat opo ora
Juni 11, 2009 pada 6:32 pm
tamat yo brati matek.. (kopas komene suryaden) wkwkwkwk…
Juni 11, 2009 pada 5:11 pm
Lha yen sekolah neng sekolah kehidupan. Oleh Ijasah apa?.
Masyarakat ra butuh ijasah, sing penting pelayanan. Kakeyan ijasah yen ra iso melayani ya mesakne masyarakate.
Juni 11, 2009 pada 5:55 pm
kadang pinter hanya buat minterin orang lain masalahnya… benr ngak ada ijasah untuk ahlak soalnya
Juni 12, 2009 pada 7:40 am
kalo gitu mending ngga usah pake ijazah deh ..
jadi bisa belajar terus ..
Juni 15, 2009 pada 1:43 pm
maksudna tuch suda tamat dari jenjan9 pendidikan kaya sd,smp,sma then universitas,semacam tanda pen9esahan..
bukan berarti berhenti belajar..
yan9 namana belajar mah selama nafas masieh berhembus ya terus belajar,bukankah hidup ituh proses dari pembelajaran itu sendiri
Juni 16, 2009 pada 11:34 pm
bagi saya… ijazah bukanlah segalanya..
tetapi ilmu yang di dapatkan lah yang lebih berharga
Juli 10, 2009 pada 8:39 pm
Wah, dah lama ga nge update blog n blokwalking…hehe,,
Surat Tanda Punya Ilmu (STPI) aja kali ya istilahnya, jadi yg ga punya ilmunya, ya ga dapet ijazah nya tuh.