eKsistensi

Posted in Indonesia, budaya, for u, psikologi, renung, sak karepe on Desember 29, 2009 by grubik

A long December and there’s reason to believe
Maybe this year will be better than the last
I can’t remember the last thing that you said as you were leaving
Oh the days go by so fast
And it’s one more day up in the canyons
And it’s one more night in Hollywood
If you think that I could be forgiven
I wish you would

Nyang  di atas itu adalah kutipan lagune, Counting Crows, judule Long December. Long itu kalo di kampung saya artinya mercon atau petasan, tapi kalo dalam bahasa inggris artinya: panjang…  Memang benar sih, itu info gak penting.

Lalu, kenapa kok saya menampilkan penggalan lirik di atas?

Ya, gak apa-apa to ya? Lha, ini kan sudah bulan Desember, jadi saya kira cukup nyambung kalo saya menampilkan lagu yang ada unsur desember-desembernya begitu. Jadi, biar blog ini ada tulisannya lagi, ada apdetannya lagi. Biar anda semuwa tau kalo saya masih hidup, masih eksis dalam hal mengeblog, hehe…

Katanya sih menjaga eksistensi itu penting, dan syarat mutlak untuk hidup, sodara.. Lha iya, eksistensi itu, kalo dalam kamus artinya keberadaan. So, bagaimana kita bisa menjalani hidup seandainya kita tidak merasa ada, sebagai diri kita sendiri, sebagai bagian dari keluarga kita, sebagai bagian dari masyarakat dunia, dunia maya juga.

Banyak cara yang ditempuh manusia untuk menjaga eksistensinya. Cara paling baik adalah dengan berbuat baik kepada orang di sekitarnya sehingga orang lain bisa merasakan dan mengharapkan keberadaannya, begitu kata temen saya yang suka adzan si mesjid. Cara berikutnya adalah dengan memberi kepada dunia melalui kerja dan karya. Ya, melalui pekerjaan dan karya seorang bisa terjaga eksistensinya. Lha, jika ada orang lain yang menikmati hasil kerja atawa hasil karya kita tentunya mereka jadi bisa merasakan manfaat dari keberadaan kita di dunia, dan bagi kita sendiri, oh betapa senangnya kalo karya kita ada manfaatnya bagi orang lain, dan kita pun merasa berguna, merasa eksis, begitulah…

Lha, belakangan ini ada cara pintas yang sering ditempuh seseorang untuk menunjukkan eksistensinya, yaitu dengan cara mbikin sensasi atau mbikin heboh. Banyak cara yang ditempuh yang cenderung gak mutu, misal dengan bikin video bugil sendiri, masuk ke dalam arena pertandingan olahraga tingat internasional dan lain sengacaunya, silahkan cari contoh sendiri…

Dalam dunia silibritis, cara pintas untuk menunjukkan eksistensi tersebut difasilitasi dengan amat bagus dengan adanya enfotenment. Anda tentunya tau kan apa itu enfotenment? Dan sialnya, makin hari kok kayaknya makin banyak aja itu tayangan seperti itu di telepisi kita…

Na..na..na..na..na..na..na..na..naa.. iye….

(melanjutkan lagu di atas)

tentang peMuda

Posted in Indonesia, budaya, for u, psikologi, renung, sak karepe, sejarah on Oktober 27, 2009 by grubik

“Kenapa ya pemuda jaman sekarang itu kok ndak seperti jaman dulu, pemuda sekarang ituh kok suka neko-neko dan lebih mudah mengarah ke yang jelek-jelek ya dibanding dulu?” itu Kang Yitno bilangs

“Ya ndak semuanya jelek to Kang..” ini saya yang bilangs

“Lhah.., lha itu sampeyan ndak liat, berita dimana-mana, tawuran, perbuatan mesum..bla..bla..bla…” panjang sekalee daftar yang beliau ini omelkan (sayangnya berita tentang hal-hal tersebut memang benar adanya), ujung-ujungnya kembali dia mengambil kesimpulan bahwa budaya asinglah yang menyebabkan ini semua (jadi terngiang postingan ini)

Saya jawab:

“Ya iya lah bos, lha wong jaman sekarang kan pergaulan kita lebih global, lebih banyak tantangan, lebih banyak penawaran tentang bermacam gaya hidup, kalo orang jaman dulu kan hanya tinggal dan bergaul di komunitasnya sajah, sehingga pola perilaku mereka pun ndak jauh beda dengan orang-orang di lingkungannya.., dunia pesikologis mereka ya hanya lingkungan ituh saja, beda dengan dunia pesikologis anak jaman sekarang, kan ada telepisi, buku, pilem, internet dan lain seabregnya…”

Weh, lha iya kan sodara? Bukankah hidup di jaman sekarang itu lebih susah dibanding dulu. Kata seseorang (saya lupa siapa), berjubelnya informasi itu akan menyebabkan terjadinya kemustahilan identitas, pergantian trend yang begitu cepat membuat apa yang kemaren dianggap hebat menjadi begitu cepat kadaluwarsa, dan ah.., itu sangat tidak ramah bagi pembentukan identitas, terutama anak muda…

Perubahan tren dan mode yang begitu cepat sodara, kadang tak memberi kesempatan buat kita untuk jadi tau tentang apa yang sebenarnya ingin kita dalami, apa yang sebenarnya kita cintai…. Apalagi jika kau hidup di dunia yang hanya melulu berorientasi materi…

“Tentang anak muda yang sukanya neko-neko.., ya jelas wajar, lha wong namanya juga anak muda kok.., ya sebenarnya tugas sampeyan juga tuh Kang buat ngebantu mereka menyalurkan fitrah neko-neko mereka ituh…” ucapan saya ini (tumben) diamini sama Kang Yitno, yang lalu disambung dengan ceritanya tentang keneko-nekoannya di masa muda dulu, halah, panjang sekali sodara ceritanya….

Mmmm.., nganu…

Orang tua tuh kok sukanya bilang itu yah, “anak jaman sekarang itu sukanya neko-neko…. bla..bla.bla.., ndak seperti dulu yang…bla…bla..bla..”

Saya gak tau, apakah para pemuda yang dulu mengikrarkan Sumpah Pemuda itu dulu orang tuanya juga marah-marah sambil bilang gini: “yah, anak jaman sekarang emang neko-neko, sudah ayem tentrem sama Londo kok ya neko-neko sumpah segala, pengen merdeka segala.., ada-ada sajah…”

Yah, pemuda memang ada-ada saja.., dan sesungguhnya peradaban manusia jadi berkembang begitu hebat juga karena orang kreatif itu selalu ada-ada saja..

Selamat mengenang Sumpah Pemuda

Selamat Hari Blogger Nasional

Selamat  berneko-neko

Uye…

 

dokumentasiSasi

Posted in Indonesia, budaya, psikologi, renung, sejarah dengan kaitan (tags) on Oktober 2, 2009 by grubik

Beberapa waktu yang lalu itu, bersama beberapa temen kuliah saya ngumpul-ngumpul di sebuah kopisop. Ngumpal-ngumpul tentunya juga minam-minum, juga mokan-makan, juga udad-udud (saya), juga fota-foto…

Nah, untuk urusan fota-foto ini kemaren ada teman yang prutes. Ceritanya secara tidak sengaja teman saya yang cantik ini datang juha ke tempat tersebut karena ada janji sama teman SMA nya. Lalu ketika dia melihat kami, dia pun lalu ikut nimbrung sebentar..

Nah, karena acara foto-fotoan sudah dilakukan diawal dan kamera sudah saya masukin lagi ke garasi, dan karena dia hanya singgah di meja kami gak begitu lama (karena ada janjian lain), maka tidak sempatlah itu kamera digital jadul punya saya membidik parasnya yang cantik itu. Baru nyadar akan hal ini ketika saya mau upload foto di fesbuk, dan seperti bisa diprediksi, beliau ini pun prutes: kok fotoku ra ono cah? (kok, foto saya tidak ada, temans?, begitu kurang lebih dia berkata.. ya kalo kurang dikit ato lebih dikit gak papa lah, wong teman kok…).

Saya lalu nyadar kalo sense of documentation yang saya miliki itu masih perlu diasah maning…

Nganu..,

Membidikkan kamera adalah momen dalam hitungan detik. Tapi momen tersebut bukan sembarang momen, tentu kau sering mendengar kalau ada peristiwa tertentu, ketika para juru foto siap membidikkan kameranya, kalian akan bilang: mereka sedang mengabadikan peristiwa tersebut. Mengabadikan, membuat peristiwa tertentu menjadi dokumentasi yang dapat selalu dilihat kapan pun.

Oh yes, dokumentasi, cah…

Ini adalah definisi dokumentasi menurut sebuah sumber: pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dlm bidang pengetahuan; pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan (spt gambar, kutipan, guntingan koran, dan bahan referensi lain).

Dokumentasi bukan hanya dalam bentuk foto, bisa juga video, bisa data tertulis, suara dan lain sebagainya, apakah itu lain sebagainya? Ya silahkan kau cari sendiri, wong sampeyan kan lebih pinter dari saya, sukanya kok nanya terus…

Dokumentasi memegang peran yang teramat penting dalam perkembangan peradaban manusia. Dari dokumentasi yang dilakukan oleh orang-orang jaman dulu lah kita lalu belajar, belajar untuk kemudian memplesetkannya. Yah, peradaban manusia yang begitu maju ini jelas merupakan hasil dari pendokumentasian yang baik dari orang-orang yang dulu pernah hidup. Pertama-tama orang membaca dan mempelajari alam, lalu berusaha dengan akal pikirannya untuk memanfaatkan apa yang ada di alam untuk dipakainya meningkatkan kualitas hidup. Ya, dulu orang membajak sawah pake kebo. Generasi berikutnya memplesetkan cara membajak sawah tersebut dengan memasukkan unsur mesin, sehingga terciptalah traktor untuk membajak sawah.  Itu baru satu contoh saja, membajak sawah, ada banyak contoh lain sebenarnya, seperti membajak laut atau membajak sofwer. Tapi ya itu tadi, gak perlulah dijelaskan satu-satu, kalian kan sudah pinter, iya to?

Dan oh, blog ini pun bukankah juga termasuk wujud konkrit produk pendokumentasian. Melalui blog, para narablog mengabadikan pengalaman, pemikiran dan juga mungkin ilmu-ilmunya, sehingga kelak bisa dijadikan oleh orang lain atau generasi sesudahnya sebagai media pembelajaran lalu memplesetkan atau mengembangkan atau memodifikasikan ilmu tersebut menjadi ilmu yang entah apa dan bagaimana.. wuih, hebatnya

Halah pokoke intinya, bangsa beradab adalah bangsa yang memiliki sense of documentation yang tinggi…

sUatu siang yang biasa saja

Posted in Indonesia, budaya, psikologi, renung, sak karepe on September 7, 2009 by grubik

Itu adalah sebuah siang dimana saya sedang berada di sebuah bengkel. Suatu siang dimana saya sedang berada di sebuah bengkel itu membuat saya menyadari betapa saya ini adalah seorang yang sangat sabar.

Lha bagaimana tidak sabar, kalau saya itu tidak marah walaupun di depan hidung saya pria berpakaian kumal yang disebut montir itu mencopoti onderdil motor saya, menggeber-geber gasnya lalu pada akhirnya mencobanya berkendara di jalan. Dengan tanpa curiga tadi juga kuserahkan kunci motor padanya walau dia bukan saudara saya.

Ketika menyerahkan kunci padanya, saya percaya kalau dia tak bakal membawa kabur motor saya, saat dia membongkar onderdilnya, saya percaya dia akan menaruhnya kembali di tempat yang tepat, dan ketika dia mencoba mengendarai motor tersebut di jalan, saya percaya dia gak bakal kabur, oh nyamannya bisa mempercayai seseorang… Yah, that’s the point, kalo kau bisa mempercayai orang lain, tak perlulah kau merasa khawatir. Tapi sayangnya, pengalaman hidupmu itu begitu banyak hal dan kejadian yang membuatmu harus tidak mempercayai beberapa macam orang sehingga ketika kau keluar rumah, harus kau kunci itu pintu rumah karena kau khawatir ada orang jahat yang akan tega mengambil paksa itu benda milikmu, oh begitulah memang dunia kita saat ini, dunia yang penuh khawatir dan curiga…

Suatu siang dimana saya sedang berada di sebuah bengkel itu juga membuat saya menyadari bahwa saya ini juga adalah orang yang baik hati. Lha bagaimana tidak baik hati kalau orang yang tadi mencopoti onderdil motor saya, lalu main-mainin gasnya lalu mencobanya di jalan raya itu malah saya beri duit, senangnya merasa jadi orang baik hati…

Suatu siang dimana saya sedang berada di sebuah bengkel itu membuat saya telah mendengarkan pengajian yang diputer via VCD player langsung ke speaker oleh orang berbaju kumal yang tadi ngubek-ubek motor dan saya kasih uang itu. Ya, inilah bulan puasa kawan…

Suatu siang dimana saya sedang berada di sebuah bengkel itu membuat saya telah mendengarkan tausyiah tentang rasa syukur. Tausyiah yang menyarankanmu untuk mensyukuri setiap momen dalam hidupmu, tausyiah yang menyebutkan ada banyak hal yang bisa membuatmu untuk bersyukur, misalnya dengan pergi ke salon atau barber shop (halah itu bercukur, ra lucu…). Tausyiah yang mengatakan bahwa kita masih bisa merasa bersyukur dalam momen yang paling pahit sekalipun, karena diberi hidup saja kita seharusnya bersyukur…

Suatu siang dimana saya sedang berada di sebuah bengkel itu membuat saya sedikit berpikir bahwa syukur itu adalah kata yang gampang sekali terucap tapi susah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Lha, walopun kadang saya menyarankan orang lain untuk bersyukur, tapi saya itu masih sering nggrundel (menggerutu) je sama nasib, tentunya juga sama Sang pembuat nasib tersebut…

Dan, syukur memang bukan sekedar kata…

iRonic

Posted in Uncategorized on Agustus 11, 2009 by grubik

“Oalah nduk..nduk…, pisan wae jer sambat kok njaluk meneh lho…”

Terjemahan: “halah nduk (panggilan untuk anak perempuan), sekali saja kebanyakan ngeluh kok minta lagi…”

Itu tadi komentar Kang Yitno waktu menyaksikan video klip duet penyanyi cewek yang syair lagunya meminta pada Tuhan kalau dia ingin hidup sekali lagi…

Sungguh komentar yang sak udele dewe (seenaknya), pedas tapi ada benarnya juga. Lha, hidup sekali saja sudah kebanyakan ngeluh kok minta lagi, sungguh ironis, doh..

Sudah tahu kerja itu capek, masih juga orang mencarinya.

Ini adalah salah satu dari kumpulan aphorismanya Pidi Baiq. Ya sodara, di satu sisi orang pusing dan tersiksa dengan rutinitas pekerjaannya sehari-hari, di lain tempat orang stres karena sulit dapat kerja, sebuah ironi…

Menganjurkan mengganyang pelacuran tanpa menganjurkan mengawini para bekas pelacur Adalah omong kosong.

Kalo yang ini adalah penggalan dari sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta karya WS Rendra, seniman besar kita yang belum lama ini wafat, yang kata beberapa analisis merupakan kepedulian dan pembelaannya terhadap kaum terpinggirkan, dalam hal ini pelacur, yang banyak orang menyalahkan mereka begitu saja tanpa memberikan solusi yang konkrit. Ya, kadang orang hanya sekedar memberi cap, mengutuk dan menyalahkan tanpa mau berusaha memahami dan mengambil solusi dari sisi objek penderita. Juga sesuatu yang ironis…

Ironi dapat melahirkan umpatan, lelucon maupun karya seni. Itu tergantung dari mulut siapa ironi tersebut diterjemahkan. Tapi kadang umpatan bisa juga menjadi lelucon, dan lelucon juga bisa jadi karya seni, dan karya seni juga bisa berawal dari sebuah umpatan atau juga lelucon, dan kadang satu hal yang dianggap umpatan oleh seseorang, orang lain menganggapnya sebagai lelucon atau malah karya seni… yah, hidup adalah kumpulan dari hal yang muter-muter…

Well life has a funny way of sneaking up on you
When you think everything’s okay and everything’s going right
And life has a funny way of helping you out
When you think everything’s gone wrong and everything blows up in your face
(Alanis Morrisette, Ironic)