kang yitno vs globalisasi

Seorang ustadz di TV sedang memberi tausyiah dengan diiringi piano sebagai background di belakangnya.

“Jaman edan, ustadz kok pakai piano-pianoan segala, kayak bukan Islam saja..!?!” itu Kang Yitno yang keras berbicara.

Saya yang cukup kaget dengan komentar tersebut lalu menanggapi:

“Lho, piano tuh kan cuma alat musik to Kang, jadi dia tuh ya netral-netral saja. Perkara dulu yang nemuinnya orang barat ya gak masalah, kan hanya untuk main musik, kalo emang enak didengar ya kenapa tidak..?”

Argumen saya tadi langsung dijawab Kang Yitno dengan memindah chanel televisi, diiringi dengan omelannya yang dahsyat tentang perilaku anak muda yang makin diracuni oleh budaya barat, tentang anak-anak kecil yang sekarang susah diatur, tidak seperti jaman dia kecil dulu. Menurutnya, waktu dia kecil dulu yang namanya anak kecil itu dipelototin saja pasti sudah takut, tapi sekarang dibentakpun mereka berani melawan. Apalagi itu gadis-gadis ABG jaman sekarang, naudzubillah bener gayanya, pamer udel, pacaran, rok mini dan lain sengacaunya.

Ya, Kang Yitno sedang meradang dengan yang namanya globalisasi. Saking jengkelnya dia dengan itu arus globalisasi, tak ada sedikit pun pengaruh dari globalisasi tersebut yang mengandung kebaikan. Pokoknya semua yang berbau barat harus ditolak. Begitu kurang lebih yang ada di otak Kang Yitno, kawan saya yang kritis sekaligus konservatif ini.

Ketika saya tanyai dia tentang solusi dari ini semua, dia malah bercerita tentang romantika jaman dia kecil dulu di kampungnya, waktu belum ada listrik, waktu anak muda pacarannya sembunyi-sembunyi, waktu permainan anak-anak begitu kreatif, waktu anak-anak yang begitu semagat ngaji di langgar mengharap takjil, waktu maling mangga tetangga yang pelit, waktu cari belut di sawah, waktu berlatih pencak silat, waktu… yah, waktu pun berlalu!

Pos ini dipublikasikan di budaya, Indonesia. Tandai permalink.

30 Balasan ke kang yitno vs globalisasi

  1. sitidjenar berkata:

    zaman dulu beda bgt ama sekarang,dulu ngaji cukup pake lampu shentir.sekarang ada neon malah gak ngaji..

  2. Andy MSE berkata:

    dulu waya waktu remaja pernah dimarahi tetua masjid gara-gara latihan qasidah di masjid. padahal waktu menjelang maulid nabi para tetua itu juga bermain rebana di masjid… ga habis pikir…
    *kalau jadi blogger dimarahi kang yitno juga nggak ya??

  3. Elys Welt berkata:

    bagaimana seandainya kang Yitno tinggal di desaku sini, hutan masih hijau di mana2 tidak hanya di desa saja, di kota juga, bagaimana reaksi beliau seandainya tahu bahwa di kampungku sini masih banyak ratusan burung beterbangan tiap hari, rusa2 liar, terwelu liar, rubah dan masih banyak hewan2 liar yg hidup berdampingan dgn damainya sama manusia, bagaimana orang2 sini begitu menjunjung tinggi hak asasi hewan apalagi manusia dan tempatku di sini juga masuk negara yang disebut negara barat, mungkin hanya hal-hal yang negatif saja yang baru dilihat dan didengar oleh beliau, padahal di manapun negara itu berada pasti ada sisi negatif dan positifnya🙂

  4. afwan auliyar berkata:

    wew….. eharusnya globalisasi bukan sebagai hambatan ….

    justru dgn globalisasi, moralitas yang benar bisa menembus batas wilayah …

  5. chic berkata:

    well ini tahun 2008 kayaknya, bukan 1908:mrgreen:

  6. ma2nn-smile berkata:

    yak…globalisasi bukan hambatan…..tapi cuman tambahan aja..

  7. grubik berkata:

    @setigjenar: itu sisi negatifnya tentunya…

    @Andy MSE: tetua kan uber alles pak..?

    @Elys Welt: tempat yang indah tentunya dan semua makhluk hidup pasti senang adanya termasuk kang yitno, tokoh kita yang memang kurang lengkap dalam melihat dunia yang maha luas ini

    @afwan auliar & ma2nn-smile: idealnya, tapi akhirnya kembali lagi donk ke individualnya dan faktanya tantangan di jaman ini tentunya lebih berat dibanding di masa lalu

    @chic: well, yes begitu adanya

  8. mikekono berkata:

    bagi Kang Yitno, modernisasi/ globalisasi bukan westernisasi
    –pendapat itu terkadang ada benernya
    sudah sepatutnya budaya lokal atau nilai2 Islam
    menjadi luntur krn pengaruh globalisasi

  9. mikekono berkata:

    kalimat di atas seharusnya berbunyi : sudah sepatutnya budaya lokal atau nilai2 Islam tidak menjadi luntur krn pengaruh globalisasi ……hehehe agak buru2 tadi

  10. yessymuchtar berkata:

    singkat..padat..dan cermat..nice posting🙂

  11. ariefdj™ berkata:

    Sptnya, kegundahan kang Yitno adalah akibat ‘jet lag’ sosial budaya..msh kaget menyadari bhw ‘puteri kecil’nya sudah beranjak dewasa.. Mgkn dia kan tercengang jk tau bhw byk anak2 yg hapalkan ayat2 suci via mp3.. Belajar ngaji lewat e-book atau digital version.. Diskusi agama secara online.. Dst.. Tlg sampaikan pd kang Yitno bhw dunia tdk semuram itu..

  12. ironepunx berkata:

    selalu ada sisi positif dan negatif dari dampak era globalisasi…
    itulah warna warni kehidupan….

    halah…..sok tua banget:mrgreen:

  13. anggavantyo berkata:

    ambil positifnya aja..
    nih wordpress siapa yang punya?
    orang barat kan?
    kita manfaatin aja🙂
    ya yoh?

  14. grubik berkata:

    @mikenono: ya, akhirnya kembali pada kita dalam memaknai segala apa yang ada disekitar kita, makin banyak kita belajar makin komprehensif pemaknaan tsb..

    @yessymuchtar: tengkyu mbak..

    @ariefdj:saya kira banyak orang macam kang yitno om…

    @ironepunx: setuju adanya…

    anggavantyo: yoh aja deh ngga..

  15. cena berkata:

    susah cari orang seperti kang yitno

  16. grubik berkata:

    @cena: kang yitno tentu bukannya secara total..tal..tal menolak itu kemajuan peradaban, buktinya dia nonton TV, dia hanya seseorang dengan cara berpikir yang sederhana hingga ketika ia mempunyai sebuah prasangka ia cenderung menggeneralisasikannya ke semua hal. Berbagai konflik panjang di negeri ini adalah karena adanya prasangka yang tidak dikelola dengan baik. mereka itu bukan orang2 jahat, hanya orang yang cara pikirnya terlalu sederhana hingga mudah terbawa prasangka. saya kira banyak orang yang spt itu…

  17. Andy MSE berkata:

    Mohon maaf lahir batin

  18. yulism berkata:

    Aku ngak ikut ikutan, nanti kang Yetno marah juga sama aku. Lha aku ini orang jawa, muslim dan hidup dibarat… thanks.

  19. radenmasnews berkata:

    kang yitno hanya merasa tak bahagia dimasa kecilnya, ga ada mainan se modern sekarang, makanya ketika kang yitno dewasa segala bentuk globalisasi akan di tolaknya karena tidak sesuai dengan masa kecilnya.
    ky manusia jadul yahh… 😛

  20. pimbem berkata:

    terkadang saya msh kangen sekali dgn masa dulu, masa dimana barang2 msh murah, tvri only, kejahatan msh minim sekali, org2 msh saling mengunjungi….
    hmmm…. senang sekali bisa merasakan saat itu, beda sekali dgn sekarang.

  21. grubik berkata:

    @Andy MSE: sama-sama pakde..

    @yaulism: wah wong colorado cah..! tapi kang yitno kayaknya gak bakal marah sama wanita cantik…

    @radenmasnews: he..he.., tapi kang yitno orangnya baik hati lho..

    @pimbem:ya, setidaknya sekarangpun kita saling mengunjungi to mbak..?

  22. Ic berkata:

    efek era globalisasi bagai pisau bermata dua, tidak dipungkiri selain ber-efek negatif, namun tidak banyak juga nilai-nlai positif yang patut di adopsi, salam kenal mas ^^ makasih dah berkunjung..

  23. Syam Jr berkata:

    Klo gak salah basti benar, itu not balok atau not nyang seperti ada benderanya dengan tangga nada diatonis justeru kreasi tokoh muslim, Ibnu Sina atau Ibnu Rush…he he he salah kalee.

  24. lischantik berkata:

    Waduh…lilis jadi pengen kenal dgn kang yitno “penasaran” dech. Pengen minta petuah bin nasehat ngadepin zaman serba “edan” ini. Kang yitno itu ada di era apa ya hehe?

  25. grubik berkata:

    @Ic : begitulah adanya, tinggal bagaimana kita memahaminya. yuuk..

    @Syam Jr: kalo gak salah memang benar adanya grandpa…
    wah, saya baru tahu tentang not balok yang ternyata kreasi ilmuwan muslim

    @lischantik: Kang yitno ada di era sebelum gestok sampai saat ini…

  26. easy berkata:

    untung saya gak kenal sama kang yitno😀

  27. saurma berkata:

    Apa si kang yitno juga tahu bahwa sekarang di amerika tidak lagi membeda-bedakan agama dan mulai menjunjung tinggi umat beragama, buktinya, beberapa fakta yang menunjukkan toleransi beragama di Amerika. Toserba “Value City” menyediakan ruang sembahyang bagi sekitar 200 pekerjanya yang beragama Islam di 8 pusat distribusinya. “Value City” adalah sebuah perusahaan pedagang eceran dengan harga khusus yang mempunyai 120 toko di bagaian Timur Laut Amerika juga mengijinkan para wanita untuk memakai pakaian sesuai dengan ajaran agamanya, yang kita kenal dengan sebutan “jilbab”. LSG Sky Chefs, sebuah perusahaan katering bagi maskapai penerbangan, juga mengijinkan wanita berjilbab dalam jam kerja. Securatex, sebuah perusahaan jasa pengamanan dan keagenan detektif yang bermarkas di Chicago mengijinkan para anggota satuan pengamanan nya yang beragama Islam untuk berjanggut. The Limited Inc. sebuah perusahaan berbasis di Columbus yang mengoperasikan 5.100 toko telah mengijinkan pekerjanya untuk bersembahyang dan memakai pakaian yang diwajibkan agamanya. Perusahaan ini kini memiliki 200 pegawai beragama Islam dibandingkan kurang dari selusin dua tahun yang lalu. Dari gambaran diatas kita dapat mempelajari bahwa Amerika tidak mengindentikkan Islam dengan teroris seperti yang dituduhkan banyak pihak kepada Paman Sam. Malah toleransi terhadap kaum Muslimin semakin ditingkatkan.

  28. grubik berkata:

    good info..
    tapi emang yang diidentikkan dengan Amrika yang mengidentikan Islam dengan teroris adalah bukan warga Amerika, tapi pemerintah Amerika…

  29. Ping balik: tentang peMuda « GaMbar KeBo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s