the caping gunung

Aku percaya dengan kata orang bahwa segala yang berasal dari hati akan sampai pula ke hati. Bahkan jika itu disampaikan oleh ibu-ibu yang ngamen di bis sekalipun. Beberapa tahun lalu di bis ekonomi Solo-Semarang, aku disuguhi sebuah art performance luar biasa dari seorang ibu-ibu pengamen. Sudah beberapa tahun berlalu, tapi masih kuingat pertunjukan itu adalah bukti. Inilah sepenggal teks yang sangat luar biasa dinyanyikan si ibu tadi:

Ning gunung
Tak jadongi sega jagung
Yen mendung
Tak silihi caping gunung

Bahasa Indonesianya:

Kalau di gunung
Kubekali nasi jagung
Kalau mendung
Kupijami caping gunung

Lagu caping gunung setahuku diciptakan oleh Gesang (mohon koreksi kalau salah), yang apabila teks di atas dinyanyikan oleh orang lain selain ibu tadi, misal oleh Kang Yitno tentunya efek yang dimunculkan akan lain terasa. Pertama kalau kau dengar Kang Yitno bernyanyi, selain tidak mendapatkan ekspresi yang sesuai (kau tahu sendirilah Kang Yitno, batuk aja fales) tentunya beda kesan yang timbul pada teks diatas antara yang keluar dari mulut Kang Yitno jika dibadingkan dengan seorang ibu-ibu.

Dalam tafsiranku waktu itu, teks diatas adalah ekspresi kerinduan seorang ibu kepada anaknya, dan cara si ibu bersandar di kursi penumpang, dengan tangannya mencabik kencrung serta tatapan hampa dan pasarahnya ke arah luar sungguh membangkitkan imajinasi dan kesadaran. Kata-kata dalam kutipan diatas lalu menjadi cerminan dari kerinduan seorang ibu, ya rasa rindu yang sebenarnya, rindu untuk melindung anaknya, rindu utuk memberi bekal nasi jagung, rindu untuk memberi caping gunung untuk melindungi anaknya dari hujan.

Tak pelak lagi jika kau sedang berada di sana pada waktu itu, kau pun pasti langsung ingat pada ibumu di rumah, ingat bagaimana dia menyelimutimu ketika kau begitu saja terkapar di depan televisi, ingat ketika kau yang lagi badung-badungnya kala SMA dulu pulang dalam keadaan pasca mabok di sore hari, lalu ibumu tetep saja menyiapkan air hangat untuk kau mandi. Apalagi jika itu kau sedang dalam perjalanan mecari kerja yang belum jua kau dapat sedang kau tahu ibumu tiap malam selalu mendoakanmu dalam tahajudnya. Wadaww…

Gabungan antara apa yang didendangkan si ibu pengamen tadi lengkap dengan suara dan ekspresinya, dan bagaimana kondisi hatimu saat itu akan menghasilkan apa yang kau sebut dengan rasa nikmat, pencerahan atau apalah namanya. Yang jelas kala itu kau bisa sejenak menjadi bijaksana, bisa berfikir jernih untuk paham dan menyadari.

Ah, bukankah jarang-jarang kau jadi bijak, bukanah jika kembali dalam kehidupan nyata kau pun akan jadi dirimu yang biasanya, yang egois, maunya menang sendiri, emosional dan lain sengacaunya.

So, itulah hebatnya kesenian…

Pos ini dipublikasikan di budaya, Indonesia. Tandai permalink.

17 Balasan ke the caping gunung

  1. almahira berkata:

    “Aku percaya dengan kata orang bahwa segala yang berasal dari hati akan sampai pula ke hati”.

    Aku juga percaya itu. Justru itu cukup sulit dan alma bener-bener pengen bisa bicara dari hati ke hati dengan siapapun. caranya harus ngasah empati… tul ga??

  2. grubik berkata:

    butul itu ma…
    dan kita nulis-nulis kayak gini ini kan wujud lain dari bicara hati ke hati kan? yah, minimal mengungkapkan apa yang tersimpan di hati, bukankah begitu adanya kan ya dong?

  3. easy berkata:

    jadi ingin denger gubrik yang nyanyiin…

    *pasti lebih terasa menghayati lagunya..*

  4. BabaliciouS berkata:

    Paragraf penutup dari post ini adl fakta klimaks, yaitu relung hati manusia merupakan rumah tempat kesenian meretas dan bersemayam.

    ^post serupa: Tentang Hati^

  5. fauzansigma berkata:

    yup…seni punya ruang sendiri dalam sebuah episode kehidupan.. nice

  6. mantan kyai berkata:

    ah saya tau lagu itu. pernah diajar juga waktu sd. tp sekarang lupita bowk😀

  7. yudios berkata:

    Setiap kata yang terucap itu selalu keluar dari hati. itulah sebabnya kata-kata selalu indah, karena ada seni yang mempengaruhinya.

  8. grubik berkata:

    @robert manurung: silahkan bos, mau di ambilkapan? (kan nitip)

    @easy: albumnya bisa di beli di penjual bubur terdekat…

    @baba: yes sir

    @fauzansigma: begitulah adanya,tengkyu

    @mantan kyai: ah,apa iyes to?

    @yudios: kesenian yang diawali dengan hati emang selalu indah adanya

  9. radenmasnews berkata:

    kalo denger lagu caping gunung saya inget kampung saya di wonogiri, tapi membaca tulisan serta tafsiran dari lagu caping gunung tadi saya jadi inget ibu saya yg sekarang lagi sakit di kampung, mohon doa nya agar cepet sembuh……

  10. pimbem berkata:

    nice… sometimes dgn ndengerin lagu kita seperti teringat akan momen masa lalu, entahlah, bisa jd kenangan di masa kecil, beranjak dewasa, dan semacamnya.. kl membaca lirik caping gunung ini saya seperti terbawa ke masa kecil, suasana pedesaan…

  11. grubik berkata:

    @radenmasnews: njih mas, semoga ibu anda lekas diberi kesembuhan.., amin

    @pimbem: salah satu terapi hati yang menyenangkan adalah menikmati karya seni dengan cara yang cerdas tentunya

  12. gendut1mu3t berkata:

    ibu,,,,
    jd inget ibu, dan masa SMP, SMA, ketika ibu menjemputku dikala hujan, dengan payung di tangannya.
    Ketika dengan rela ibu berjalan 2km hnya untuk membawakan payung untukku,
    Ketika aku terkapar di depan Televisi, dan terbangun dg selimut tebal menghangatkan tubuhku.
    Jd ingt juga betapa lebaran besok vee tak akn lma kangen2an ma ibu, krn libur vee cm 1 hari,,
    ibu,,,
    maz grubik,,
    ouH,,,!

  13. grubik berkata:

    libur sehari doang? betapa malang nasibmu vee…
    ouh juga tentunya…

  14. Murid Tambeng berkata:

    aq punya lagu caping gunung Coy,klo u pingin download aza.

  15. awanK berkata:

    aku seorang mahasiswa yang merantau ke kota lain..
    dan skrg aku sedang mencari inspirasi untuk memfokuskan niatku di jogja untuk belajar..
    dan malam ini aku dapat satu stimulus baru bagiku : caping gunung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s