Akhir Kisah Kang Jono-Marilyn

Ahai Kang Jono,

Beberapa waktu lalu kau datangi aku. Ketika diriku sedang duduk bermalasan di tepi kolam belakang rumah, kala aku sedang asyik berdendang lagu gak jelas dengan gitar kayu yang dua senarnya putus itu.

Kau ceritakan padaku keluh kesahmu. Tentang isterimu yang kau bilang jadi belagu setelah dia diangkat jadi PNS. Kau katakan dia jadi gak mau mendengarkan kata-katamu. Menurutmu, dia dan keluarganya meremehkan dirimu sebagai seorang tukang parkir. Lalu kau ceritakan pula bahwa keluarga isterimu, dalam hal ini adik laki-lakinya, yang kau bilang berpendidikan tinggi itu telah mengusirmu dari rumahnya. Rumah yang selama ini kau tinggali juga bersama isteri dan seorang anakmu.

Kau ceritakan padaku bahwa mereka menganggapmu tidak bertanggung jawab sebagai suami dan cenderung bertindak keras pada isterimu. Tapi kau katakan padaku bahwa mereka begitu karena dari dulu sebelum kalian menikah, mereka memang tidak menyetujui hubunganmu dengan isterimu. Menurutmu, jika tak ada tekanan yang terus menerus dari pihak keluarganya, kau tak akan mungkin bertindak penuh emosi pada isterimu.

Dan duhai Mbak Marilyn,

Ketika kukunjungi rumahmu beberapa waktu kemudian, kau menangis tersedu. Kau bilang kau sudah gak kuat lagi berumah tangga dengan seorang yang frustrasi, yang kemudian gampang emosi dan juga doyan mabok lagi.

Tapi hanya beberapa kalimat yang kau ceritakan padaku. Karena adik laki-lakimu yang berpendidikan itu lalu muncul dan ikut bergabung dalam pembicaraan kita.

Ah, dia bicara banyak sekali, begitu meyakinkan dan penuh emosi, tentang kegagalan Kang Jono jadi suami yang baik.

Tak terasa Maghrib hampir menjelang. Aku pun pamit untuk pulang. Di depan rumah kulihat anak semata wayangmu asyik bermain dengan bola plastiknya.

Diantara semuanya dialah yang paling kecewa nantinya.

Ah, sebait lagu dari Blink 182:

”I see them everyday

we get along so why can’t they

if this is what he want and what she want

why there’s so much pain…”

Pos ini dipublikasikan di cerpen banget, Indonesia. Tandai permalink.

10 Balasan ke Akhir Kisah Kang Jono-Marilyn

  1. Hm….. bisa dibikin lebih panjang dengan konflik yang riil sebenarnya…

  2. imam berkata:

    Oo. dari sebait lagu tho…
    Takita kisah nyata…:)

    sama : kasian kang Jono…

  3. grubik berkata:

    bahan dasar cerita di atas adalah dari sepenggal kisah nyata

  4. ma2nn-smile berkata:

    heheheh…..jadi inget cerita pak guru….

  5. grubik berkata:

    pak guru?
    wah saya gak ikut-ikut…

  6. r3tn0 berkata:

    /nasib..nasib…kok begini ya jadinya ? kang jono….kasian deh lu…
    ohya, thanks udah mampir ke blogku kang jono…eh…kang gubrik….

  7. grubik berkata:

    sama-sama mbakyu…

  8. easy berkata:

    kasihan dengan anaknya yang semata wayang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s