talk is cheap

Kata seseorang (tapi siapa, saya lupa), negara ini jadi kacau balau kaya gini adalah dikarenakan orang yang memiliki pengetahuan kebanyakan gak pandai bicara dan lebih banyak terdiam menyaksikan banyak hal, sedangkan orang berilmu pas-pasan atau malah bego kebanyakan pinter banget bicara dan ahli dalam hal ngegombal. Nah, orang dengan skill ngegombal tinggi inilah yang biasanya menjadi orang yang banyak tampil di masyarakat, merekalah para pemimpin yang selalu bersemangat memberi petunjuk dan sangat senang melihat orang melakukan apa yang dia bilang.

Kata Stephen Covey, bicara secara lisan hanya berpengaruh 10% dibanding bicara dengan bahasa tubuh. Tapi, skill ngegombal biasanya dilengkapi pula dengan keterampilan bahasa tubuh yang dahsyat, seperti suara vokal lembut, berapi-api atau tatapan wajah yang powerful.

What did u say in your everyday conversation? Apa yang ingin kau sampaikan pada orang? Apakah fakta yang kau tahu? Atau lebih banyak dibumbui untuk menunjukkan ”eksistensi”? Alasan kedua adalah bibit awal dari seorang gombaler. Dalam tingkatan tertentu ”hasrat menunjukkan eksistensi” yang kelewat tinggi akan membuat fakta menjadi sesuatu yang gak lagi penting, coz talking now is not just tell the truth but to show who i am, dan bahkan not who i am but ”gue hebat kan?”

Hasrat ”gue hebat kan” kalau dalam teori kebutuhan Maslow berada di tingkat keempat dari lima tingkatan kebutuhan manusia. Dari yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis, terus kebutuhan psikologis/ rasa aman, trus kebutuhan sosial akan rasa cinta, trus keempat adalah kebutuhan ingin dihargai. Keempat kebutuhan tadi merupakan kebutuhan karena faktor kekurangan, seperti lapar karena kurang makan, cemas karena kurang aman, posesif karena kurang cinta, gila hormat karena kurang tahu diri!

Kebutuhan tertinggi menurut Maslow merupakan kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengaktualkan segala potensi baik yang kita punya untuk mencintai dan memberi sesuatu pada dunia, bukan karena ingin dicintai atau ingin dihargai, tapi karena peduli. Kebutuhan aktualisasi lahir bukan karena kekurangan, tapi karena kepedulian dan tahu diri dengan benar, tahu siapa dirinya dan tujuan hidupnya.

Pos ini dipublikasikan di psikologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s