mengenal diri

Ada bedebah kecil dalam diri kita semua. Si bedebah yang kadang tidak rasional kalo sudah punya keinginan, yang maunya dituruti terus, yang waktu bulan puasa nanti kita berusaha untuk mengendalikannya. Ayolah, say halo to our bedebah kecil yang bengal itu. Kalo masih dalam taraf agak bengal sih fine-fine saja, tapi kadang kalo dia terus dimanja, bukan cuma kebengalan yang aktual tapi perilaku psikopat!

Dalam literatur pewayangan Jawa, setidaknya ada tiga hal yang harus dipenuhi untuk bisa jadi manusia paripurna: paham tujuan hidup, mengenal diri sendiri dan punya orientasi spiritual.

Paham tujuan hidup artinya tahu hendak kemana hidup ini nantinya, dimana pos akhir yang akan kita tuju. Menurut Om Yosodipuro (pujangga Jawa) orang yang tidak tahu tujuan hidup itu ibarat orang udik bin katro dari kampung yang main ke kota mo beli emas, karena dia tidak tahu bagaimana itu emas yang asli, maka ketika ia diberi kuningan oleh pedagang kota nan brengsek, ia pun senang-senang saja dan rela menukar semua tabungannya dengan kuningan alias emas palsu tadi. Seperti itulah, dalam hidup ini kata Yasadipura (yang bener pakai ’a’ atau ’o’ sih?) lagi, kesenangan dunia adalah kuningan atau emas palsu, kalo cuma itu yang kita kejar maka kita akan kecewa nantinya karena semua tabungan hidup cuma dibelikan emas palsu, the real golden is life after we die.

Yang kedua, kenal diri sendiri, maksudnya benar-benar nyaho bin understand tentang keberadaan kita di dunia ini, mulai kita sebagai makhluk fisiologis, psikologi, sosiologi dan spiritual. Fisiologis menyangkut kesadaran untuk memelihara fisik yang dikaruniakan Tuhan (sebagai perokok, saya merasa sedang jadi orang munafik nulis ini, tapi whatever saya cuma mau berbagi apa yang pernah saya baca bukan bermaksud menggurui, kata orang bego, do as i say not as i do!). Mengenal diri secara psikologi maksudnya kenal dan bisa hidup dengan semua komponen diri kita, termasuk si bengal yang dibahas di atas, yaitu bagaimana bisa mengendalikan si bengal agar tidak mendatangkan bencana dan mencerdaskan si bijak agar tidak jadi orang sok tahu yang gak liat tempat. Sisi sosiologis adalah hakekat bahwa manusia is never walk alone, silahkan ke Anfield kalo gak percaya. Sedangkan mengenal diri secara spiritual adalah tahu hakekat dari hidup ini sebenernya, kenapa Tuhan menciptakan manusia dan disuruh ngejagain bumi (tahu gak kenapa?, saya juga gak terlalu pede untuk bisa ngejawab tahu…)

Nah, yang ketiga adalah dimilikinya orientasi spiritual dalam segala aspek hidup. Kalo kata Pak Kuncoro, dosen saya waktu kuliah, orientasi spiritual adalah pedagang di pasar yang misi berdagangnya bukan hanya golek sathak alias cari duit mulu, tapi lebih pada mencari sanak or sedulur or saudara or ridho yang bukan Ridho Slank tapi ridho dari-Nya.

Maka dari itu, marilah…

Pos ini dipublikasikan di psikologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s