Di Persimpagan Jalan

Ah, panas sekali siang ini. Kota ini biasanya dingin, tapi siang ini matahari sedang dalam kondisi terganasnya, menyengat kulit wajah dan mengucurkan keringat seluruh tubuh ini.

Jam setengah dua siang, lalu lintas macet. Angkot, delman, anak sekolah dan jalan yang sempit adalah alasan logis kenapa kota kecil ini pakai acara macet segala.

Kulanjutkan melangkahkan kaki. Sebuah mobil secara tiba-tiba terbuka kacanya ketika kulewati, muncul sebuah kepala yang kukenal. Lalu, kepala yang aku kenal tadi pun menawarkan mobilnya untuk aku tumpangi.

Aku menolaknya. Bukan, bukan karena aku membenci si pemilik mobil dan kepala tadi. Dia temanku, aku tidak membencinya. Aku hanya ingin, jalan kaki…

Jalanan makin terasa bising dan panas. Seorang sopir angkot memaki-maki pengendara motor yang berseragam sekolah yang menurutnya terlalu memaksa untuk menyalip.

Kulangkahkan terus kaki ini. Tibalah saat untuk menyusuri trotoar di depan deretan ruko. Biarpun area ini sumpek oleh pedagang kaki lima, tapi cukuplah melindungiku dari sengatan langsung matahari siang.

Sebatang rokok kunyalakan, sebuah lagu pelan kudedangkan. Sampai tibalah aku di persimpangan jalan. Sebuah perempatan, lurus berarti ke taman kota, belok kanan akan membuatku sampai ke gunung ciremai.

Kuarahkan langkahku berbelok ke kiri.

Aku mau ambil uang di ATM.

Tamat….

Pos ini dipublikasikan di cerpen banget. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s