act local

Tahun 1999 dulu, waktu masih kuliah kalau lagi jalan-jalan ke daerah yang jarang dilewati sebelumnya, anak-anak selalu bilang begini: “..tenang, selama masih ada posko PDI, berarti kita masih di wilayah Indonesia, gak bakal nyasar!”

Tahun-tahun belakangan ini, mungkin guyonan itu agak sedikit mengalami perubahan jadi gini: “..tenang, selama di pinggir jalan masih ada gambar 2 makhluk berpeci lagi tersenyum, berarti kita masih di wilayah Indonesia”

Ngomong-ngomong tentang Pilkada, tahun 2005 (bener kan?) waktu masih di Klaten, saya pernah didaulat oleh dr. Bengkong (nama teman saya) untuk jadi saksi kandidat bupati yang diusung Partai Golkar, yang akhirnya menang. Lumayan, untuk ukuran pengangguran waktu itu, saya dapat honor 75 rebu. Sebuah kerja profesional, karena jujur saja, saya nyoblos kandidat lain. Dari kacamata profesionalisme kerja, saya pikir itu sah-sah saja!

Masih tentang pilkada, bulan April ini, sebagai warga baru yang baik, saya juga ikut berpartisipasi dalam Pilgub Jawa Barat. Mencoblos tea, di TPS 9 Cigugur tepatnya. Sebelum berangkat tak sempetin ngebel adiku wedok, yang lagi tugas jaga di Galyoso Klaten Jawa Tengah sana. ”Aku mo nyoblos pilkada gubernur Jabar 1, 2 atau 3…?” tanyaku padanya. Dia yang gak tau nomor satu siapa, dua teh saha and tiga who’s the hell, bilang ”…wong edan, ee… anu, nomor 3”

”OK, Nomor 3!”, HP saya tutup tanpa salam.

Dan, saya pun nyoblos nomor 3, Om Ahmad Heryawan ama kang Dede Yusuf, yang akhirnya menang.

Menurut saya waktu itu, adik saya tinggalnya di Central Java alias Jawa Tengah, jadi dia gak tau urut-urutan nomornya, so I believe that her answer from the phone adalah feeling murni. Itulah yang kemaren saya cari, a true feeling, kalo kata dr. Hombyeng (nama teman saya juga) waktu jadi ”Capjikia Shooter”, feeling bening itu namanya!

Ide nanya orang yang gak tau sendiri bukan pure orisinal ide saya pribadi. Saya cuma inget dengan tulisannya Pidi Baiq, dia pernah bilang kalo dulu nyoblos SBY karena disuruh anaknya yang balita yang dia ajak waktu nyoblozz…

Saya juga terinspirasi dengan para penggila judi buntut, togel, capjikia dan sejenisnya yang suka nanyain orang-orang yang gak ada hubungannya taruhan judinya, seperti orang gila, orang punya hajat sampai kuntilanak dsb.

Bukankah sebagai anak muda dengan semangat ”think global n act local” sudah sepantasnya kita mengambil cara-cara lokal dalam berperilaku. And I did it bro…

Merdeka!

Pos ini dipublikasikan di nothing. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s