tersedu

Tersedu. Saya ingat dulu, a long time ago, kalo gak salah (mungkin salah) waktu saya TK atau mungkin lebih kecil, waktu itu saya marah dan jengkel pada semua orang. Saya gak dapat kunci dan gak bisa masuk rumah. Jadi deh, saya tersedu di bekas tebangan pohon kelapa di samping rumah, somewhere in Jaken Pati. Kalo gak salah nyokap waktu itu pergi ke Juwana dan bokap kayaknya ada di Klaten. Yah, bokap lebih dulu pindah kerja kurang lebih setahun or dua tahun sebelum kami sekeluarga movin to Klaten. Saya nangis tersedu pickup (soalnya kalo tersedu sedan mahal, kan sedan mobil mewah). Tangisan yang begitu sedih, sendiri man gak ada orang-orang tercinta saat kita butuh kunci untuk masuk rumah. Yah, nyokap lama banget ke Juwananya, bokap gak di rumah, kakak sekolah, trus kayaknya saya juga lagi jengkel dengan Ma’e (orang yang selalu jadi baby sitter saya dan adik saya waktu kecil, kita sering dititipkan ke beliau ini kalo nyokap bokap kerja, bagaimana dia sekarang saya juga kurang tau, yang jelas jejak kasih sayang pernah kurasakan dari keluarganya yang sederhana) dan gak mau terus di rumahnya seperti apa yang diamanatkan nyokap waktu bilang mo ke Juwana, saya disuruh tinggal di Ma’e dulu sampai beliau pulang, tapi dasar cah ngeyel, saya tetep nekat balik rumah dan mendapati rumah terkunci dan harus menunggu lama dengan duduk di bekas tebangan pohon kelapa. Pertama jengkel, terus resah untuk kemudian tersedu…. He.., sendiri itu menyakitkan, apalagi kalo kita sedang dilanda sebuah kebutuhan mendesak seperti pengen masuk rumah.

Tapi lihatlah, nyokap lalu datang. Dia turun dari angkot desa yang berupa colt pickup yang dikasih gerbong di belakangnya. Dia turun dengan senyum dan sebungkus plastik, tentunya oleh-oleh yang cukup untuk membuatku lupa akan rasa sepi sendiri yang barusan membuatku tersedu.

Masih ingatkah kau saat dulu kamu pernah tersedu jeep (bukan sedan) oleh hal remeh dan kecil, ahai tentunya waktu kau masih kecil? Tengoklah jauh ke dalam jiwamu, si anak kecil manja itu.. dia masih di situ man!!! Berkumpul dengan ribuan kenangan sepanjang waktu yang telah kau alami. Tengoklah dia, tersenyumlah pada pikiran sederhananya, pada kemurnian perasaan dan kekecilan jiwa, kesederhanaan yang sungguh membuat hati teriris, tapi damai… kenapa? Karena dia tidak pernah berfikir dendam, dia belum mengenal dendam dan semua kesalahan atau kejengkelan pasti akan termaafkan, bahkan hanya sekedar dengan sebungkus kue oleh-oleh, tangis pun berubah jadi senyum dan kemudian tawa renyah penuh suka cita…

Pos ini dipublikasikan di renung. Tandai permalink.

2 Balasan ke tersedu

  1. tre berkata:

    yoi, when the children cry..

  2. grubik berkata:

    yes om, bed of roses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s