we did id our way

Di daftar lagu dalam komputer saya, mungkin 80 persennya lagu barat, yang 20 persen lokal pun tidak semua pakai bahasa Indonesia, misal lagunya mas-mas Superman is Dead.

Ah, budaya itu gak penting berasal dari lokal ataupun inlok, bahkan sebaiknya buang jauh-jauh tuh pemahaman lokal dan asing. Selama budaya itu tercipta dari hati nurani manusia, itulah yang disebut hasil peradaban, kebudayaan. Sebagai anak manusia kita tidak punya beban awal untuk mempertahankan budaya lokal. Yang terpenting dari segala sikap kebudayaan adalah mempertajam nurani, mengoptimalkan hati dalam menyerap, mempelajari, menikmati dan memadukan segala hasil budaya yang ada di sekitar kehidupan. Nuranilah yang harusnya membimbing perilaku berbudaya.

Wayang golek bukan eksklusif punya orang Sunda, wayang kulit juga tidak haram buat orang bule, begitu pula musik rap, Eminem yang kulit putih pun berhak menyanyikannya. Lupakan itu asal muasal sebuah budaya, whatever kalau suatu cara budaya tertentu bisa membawa ke arah kebaikan ya terusin saja, begitu pula sebaliknya. Kalau budaya lokal punah? So what? Asalkan masyarakat makin cerdas dan berapresiasi tinggi terhadap nilai budaya universal bahkan makin kreatif membangun kejayaan budayanya sendiri, lepas dari bayang masa lalu ya gak masalah to dong ya sih pun kah kiranya o yeahhh???

Dalam kumpulan esainya Yudi Latif mengutip pendapat Toffler kalo gak salah (salah juga gak papa kok mas..), katanya sebuah generasi penerus dari sebuah generasi emas biasanya kurang berkualitas. Ya itu tadi, mereka terjebak dari bayang kebesaran masa lalu, standar sukses telah terpaku dengan kuat, standar baik buruk yang membelenggu ruang kreatif, kebanggaan picik akan kebesaran nenek moyang and there he goes, waktu terus berlalu.

Yang kita prihatinkan seharusnya bukan bagaimana budaya karya nenek moyang bisa tetap eksis, tapi bagaimana generasi mendatang lebih punya nurani yang tajam, kecerdasan dalam berbudaya dan kebijaksanaan perilaku, entah mereka dapat dari kebudayaan mana saja.

Gak masalah kalo kemudian wayang kulit, ketoprak, lenong dan lain sejenisnya hanya jadi kumpulan dokumen dalam museum budaya. Kita harus menghargai semua karya hebat yang pernah diciptakan, apalagi dengan maksud mulia oleh nenek moyang sendiri pula, tapi kita juga punya hak untuk bertumbuh kembang dengan cara yang unik milik kita, entah dari mana saja kita serap ilmu tersebut. I’ll do that my way.. gitu kali ya..

Pos ini dipublikasikan di budaya. Tandai permalink.

2 Balasan ke we did id our way

  1. J.CO berkata:

    Emang benul (benar skaligus betul) mas Tiem, sesuatu yang bisa beranak pinak adalah “budaya” karena seperti kita ketahui -hah?! kita? loe ma kebo kali…! sukanya menggeneralisasikan, CIK!- yo wis… aku ralat. seperti aku ketahui -lha, gituu…- syeep..lanjuut.. seperti aku ketahui bahwa yg namanya budaya itu bisa beranak pinak karena jenis kelaminnya wanita, coba kalo “pakdaya” yg notabene berjenis kelamin laki-laki, gak akan kemana-mana n gak akan nambah apapun, bisanya cuman iuran/urunan biar bisa berkembang lebih banyak. kenapa lagi kok “budaya” tidak “mbakdaya” ato “dekdaya” karena hanya seorang “bu” yg punya daya/kekuatan untuk melahirkan kalaopun ada “mbak” yg punya daya/kekuatan utk melahirkan nantinya sebutannya bukan lagi “mbak” karena seorang yg sudah melahirkan pasti akan disebut “bu” oleh yang dilahirkannya. mungkin ini bisa menjadi sumber ato asal usul terjadinya kata “budaya”. nuwun….hahaha…

  2. grubik berkata:

    terimakasih atas usulannya, dalam waktu dekat ini emang saya berminat untuk membuat penelitian yang ambisius tentang asal muasal semua kata dalam bahasa indonesia dan saya butuh banyak pejuang yang mau membantu saya, anda berminat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s