tentang menulis

Write is menuliskan sesuatu, mengolah apa yang ada di kepala dan apa yang dirasakan menjadi serangkaian kata, kalimat, paragraf, bab dan untuk orang-orang tertentu bisa menjadi ber-rak-rak buku yang manjadikan dia dikenal banyak orang sebagai seorang penulis.

Mengolah apa yang terpikir dan terasa, so writing is happen if we had something to thing and something to feel. Jadi, syarat menulis (selain tangan, pulpen, kertas, komputer or mesin tik) are:

ü      Punya otak

ü      Punya perasaan

Menulis juga bisa menjadi sesuatu yang urgen yang harus dilakukan, terutama bagi seorang:

Ø            Yang berprofesi wartawan, novelis, penulis skenario, pengarang lagu dan lain sejenisnya (ya iyalah…)

Ø            Mereka yang punya pemikiran yang kritis sehingga akan menjadi penyakit jika tidak disampaikan

Ø            Mereka yang punya kepekaan perasaan

Ø            Mereka yang punya pendaman perasaan yang membuatnya gila kalo rasa itu terus dipendam

Ø            Mereka yang punya pilox dan kebetulan berada di dekat tembok

Secara teknis, syarat jadi penulis:

o       Melek huruf

o       Ada waktu

o       Tidak sedang mengendarai sepeda motor dengan membawa televisi di selangkangannya dan dua biji durian di tangan kirinya

o       Punya bahan untuk ditulis

Lalu, bagaimana orang bisa punya bahan untuk ditulis? Ya tadi bro, pake otak dan hati and of course akan lebih maksimal jika wawasan luas, kata orang seh harus banyak membaca dan bergaul…

Menulis berasal dari kata dasar tulis, dan bukan berasal dari kata tuli yang mendapat akhiran s. Kata tuli sendiri tidak begitu berhubungan dengan kata menulis, kalopun ada paling gak banyak, misal kata tuli tinta yang berarti wartawan, itupun didapat karena mekso boso yang kerap dikenal dengan nama plezetann

Plesetan adalah guyonan legendaris yang ada hampir disemua bangsa. Dan banyak penemuan mutakhir yang sebenernya adalah versi plesetan dari produk lama, misal HP adalah plesetan mutakhir dari telepon rumah.

So, let’s reading, writing and plezetann… kemajuan peradaban terjadi karena tiga hal tersebut, belajar dari alam dan masa lalu (reading), mengkonsepkan dan menuliskan ide dan pikiran hasil belajar (writing), lalu memelesetkan apa yang sudah ada menjadi modifikasi baru nan unik dan orisini (plezetenning)! Bagaimana menurut anda, ledis en jentelmen…?

Pos ini dipublikasikan di menulis halus. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s