Arsip untuk Juni, 2009

kaTa bu guru itu

Posted in Indonesia, budaya, psikologi, puisi, renung on Juni 20, 2009 by grubik

Makin lama anak-anak tuh makin parah…

Mentang-mentang sekolah digratisin, orang tua jadi makin gak peduli anaknya belajar apa tidak, lha wong gratis kok, ya sak karepnya mo belajar mo tidak, wong gak keluar duit, gitu..

Itu tadi adalah keluhan seorang ibu guru di sebuah Sekolah Dasar nun mblesek di sebuah desa dalam rangka mengomentari semangat belajar anak didiknya yang menurutnya semakin merosot dibanding semangat bandel, semangat bersenang-senang, semangat main game dan lain sengacaunya. Plus ditambah para orang tua murid yang cenderung acuh dengan sekolah anaknya.

Keluhan tersebut dilanjutkan dengan kritikan terhadap mentalitas bangsa ini yang sepertinya sulit diajak maju, plus katanya tidak bisa dikasih hati. Contohnya tidak bisa dikasih hati ya itu tadi, mentang-mentang sekulah gratis (bener-bener gratis bener gak sih?) trus orang tua jadi kurang serius memantau hasil perkembangan sekulah anaknya. Kritikan lalu melebar ke bantuan langsung tunai yang dianggapnya menyuburkan mentalitas menyebalkan tersebut…

Hmmm, tampaknya ada beberapa kemungkinan sebab mengapa si ibu guru kita tersebut sampai bercurhat yang sedemikian itu:

Pertama, dia mungkin barusan mendengarkan kampanye pulitik yang mengkritik kebijakan pemerintah tentang bantuan langsing tunai, wakakaka…

Kedua, mungkin itu hanya pandangan subjektif si ibu guru dalam melihat penurunan prestasi anak didiknya

Ketiga, memang mungkin begitulah adanya mentalitas masyarakat kita (haduh..!). Kalo memang benar demikian, ah.., betapa sungguh berat jalan bangsa ini untuk maju.

Mari kita lihat.., paradigma berpikirnya adalah: “lha wong gratis kok, ya sak karepnya, biarin aja mo belajar mo tidak, wong gak keluar duit..” Pola pikir yang sungguh sederhana. Sederhana dan menjengkelkan.

Tapi ya bagaimana lagi, hidup mereka itu memang setiap hari hanya berkutat tentang masalah bagaimana besok bisa makan dan bisa bertahan hidup, wajar kalau pemikiran mereka tidak jauh menjangkau ke depan…

Lha bagaimana lagi, mereka tuh sering melihat anak yang sekolah tinggi cuma jadi pengangguran…

Lha bagaimana lagi, pengetahuan mereka mungkin ya cuma segitu-itu je…

Lha, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa masih merupakan kata-kata merdu yang begitu sulit terlaksana

Lha tambah kacau lagi, tiap hari mereka hanya disuguhi tayangan-tayangan TV yang jauh dari kriteria mencerdaskan kehidupan bangsa, yang tidak menambah wawasan positif dalam pemikiran, yah kalopun ada hanya berupa slogan-slogan yang tidak nyeni, itupun porsinya hanya sedikit…

tentang naMa baik

Posted in Indonesia, bedah kata, budaya, psikologi, renung, sak karepe on Juni 12, 2009 by grubik

Nama baik, apakah gerangan itu?

Hmm,

Jadi beberapa waktu lalu itu ada kasus pencemaran nama baik. Pencemaran itu bukan oleh limbah pabrik ataupun asap knalpot, tapi dari sebuah email. We.., lha kasusnya kan rame banget terutama di kalangan masyarakat dunia maya ini, kalo sampeyan sampe ndak tau ya itu namanya terlalu…

Itu adalah kisah tentang konsumen yang tidak puas oleh pelayanan sebuah Rumah Sakit Omni lalu menyampaikan ketidakpuasannya ke orang lain melalui media internet yang lalu menyebar lebih luas lagi. Sampe di sini saya jadi inget dengan tulisan-tulisan di warung-warung makan itu yang bunyinya kurang lebih begini: “kalau anda tidak puas beri tahu kami, kalau anda puas beri tahu rekan-rekan anda”. Lha maksud dari si penjual menuliskan yang seperti itu tentunya biar kalo konsumen merasa puas dia bisa berpromosi kepada teman-temannya yang lain sehingga citra warungnya akan terkenal baik, yang akan mengakibatkan jualannya jadi laku, sedang kalo konsumen gak puas cukuplah bilang sama yang punya warung biar si empunya warung tadi bisa mengevaluasi kekurangan dan citra buruk itu tidak usah menyebar kemana-mana…

Dari cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa nama baik adalah sesuatu yang bisa mengakibatkan seorang penjual bertambah kaya.

Lha, kemaren juga ada ribut-ribut tentang ujian nasional. Cerita lama yang terus berulang, tentang kecurangan. Tentang pihak sekolah yang ingin menjaga reputasi sekolahnya, tentang Kepala Dinas yang ingin menjaga reputasi wilayahnya. Ha kalo banyak siswa yang gak lulus kan malu, reputasi, nama baik dipertaruhkan disini, maka ditempuhlah berbagai cara termasuk dengan kecurangan itu…

Sampai di sini dapat disimpulkan pula bahwa nama baik adalah sesuatu yang bisa membuat orang menghalalkan segala cara untuk bisa menjaganya…

Lalu, suatu hari di sudut sebuah terminal. Itu adalah tempat yang lumayan rame oleh beberapa anak muda, sekumpulan pengamen dan juga preman. Ceritanya mereka bercanda, saling meledek.. Sebuah insiden yang kemudian terjadi adalah, salah seorang preman yang nampak paling sangur (lebih sangar dari sangar) marah-marah sambil melakukan intimidasi fisik pada salah seorang pengamen tadi, itu terjadi karena si pengamen dianggapnya kelewatan dalam bercanda, tersinggunglah itu preman, marah-marahlah dia, mengancamlah dia dengan keunggulan fisik yang ia miliki. Si pengamen itu pun berkali-kali bilang maaf karena dia hanya bercanda dan oh si preman itu sepertinya tak peduli dengan permintaan maaf malah makin menjadi-jadi ancaman yang dia lakukan, malah pakai acara nggajul bin nendang segala, alasennya karena ucapan si pengamen telah menyinggung harga dirinya (harga diri itu kayaknya masih sodara sama nama baik). Tentunya itu tindakan yang terlalu berlebihan, mengingat yang mengucapkan juga telah minta maaf, lha tapi bagaimana lagi.., si preman punya kekuatan dan kekauasaan je…

Lha iya, satu lagi kesimpulan tentang nama baik adalah, jika kau adalah seorang yang merasa lebih kuat dari orang lain, nama baikmu adalah sesuatu yang sangat suci sehingga apa pun yang menyinggungnya kau boleh membalasnya dengan lebih sadis. Dan bahkan, kalau kau punya kekuasaan yang luar biasa, terkadang pengrusakan terhadap nama baikmu adalah hal yang berbahaya, maka sumber-sumber pencemaran itu harus dilenyapkan…

Ya, sisi horor nama baik…

ijaZah, yeah…

Posted in Indonesia, budaya, renung, say it, sejarah on Juni 5, 2009 by grubik

Sebelum kita masuk ke tulisan inti (halah), ada baiknya selaku warga dunia internet saya mulai postingan ini dengan menyinggung tentang sodara kita yang sedang bermasalah, yaitu oh Ibu Prita yang dengan malangnya harus merasakan mendekam di penjara akibat curhatannya melalui email pribadi yang dianggap mencemarkan nama baik sebuah Rumah Sakit Omni yang katanya bertarif Internasionil itu, yang oleh banyak orang, oh Ibu Prita didukung melalui berbagai cara, ada yang berdoa, ada yang memposting tulisan di blognya, ada yang pasang banner, ada yang bikin group di fesbuk, ada yang datang menjenguknya ada yang datang di sidangnya dan ada juga yang melakukan semua yang saya sebut tadi… dan jelas maraknya dukungan komunitas dunia maya ini telah cukup berhasil membuat kasus ini jadi kasus nasional yang menjadikan para capres pun ikut berbicara tentangnya, ah, semoga niat mereka memang baik, lha wong calon presiden kita kok…

Baiklah, saya tadi nulis judul ijazah ya?

Baiklah lagi, ijazah secara fisik adalah selembar kertas dengan nomor seri di atasnya, kemudian dituliskan juga di situ nama sekolahan yang mengeluarkannya, lalu ada tercantum juga identias si pemilik ijazah tersebut, juga identitas sekolah tempat dia menuntut ilmu dan juga tempat bermain-main dengan banyak teman-teman yang menyenangkan, menjengkelkan, membuatnya jatuh cinta, patah hati dan lain sebagainya itu… Oh ya, di bagian bawah ijazah juga terdapat foto orang ganteng pakai dasi lalu ada juga tanda tangan, tanggal dan cap…

Ada banyak cara orang mendapatkan ijazah. Ada yang dengan perjuangan keras melalui belajar siang malam dengan kesungguhan  dengan harapan bisa memperbaiki kualitas hidup, ijazah bagi orang seperti ini adalah bukti konkrit bagi kesungguhannya dan sarana bagi dia untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Ada juga orang yang mendapatkan ijazah sebagai buah dari kecintaannya akan ilmu  pengetahuan, ijazah adalah semacam bonus atau penghargaan bagi usahanya dalam memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan, oh indahnya…

Dan jelas, ada juga orang yang mencarinya sebagai alat untuk memperlancar urusannya, seperti misal mau jadi calon Ketua RT yang syaratnya misalnya harus S-1 atau biar naik pangkat dalam pekerjaannya. Untuk keperluan ini, biasanya mereka memilih jalan pintas, persetan ilmu pengetahuan dan oh sayangnya sistem pendidikan kita cukup toleran sepertinya dengan hal seperti ini…

Orang kadang menyebut ijazah dengan nama lain: “Surat Tanda Tamat Belajar”… dan bahkan dalam kamus Bahas Indonesia bersampul biru, dengan cap Best Seller karangan Hoetomo M.A, salah satu definisi dari ijazah adalah itu tadi: surat tanda tamat belajar. Wah, kalau paradigma kita dalam memahami ijazah, hanya sebatas surat tamat belajar, oh.. betapa mengerikannya. Bagaimana tidak ngeri, belajar kok tamat? Bukankah manusia dikaruniai akal adalah agar akal itu dipergunakan dan dikembangkan, lha kalo belajarnya sudah tamat bagaimana akal tersebut bisa maksimal digunakannya…